Mengawali pagi ini dengan tersentak bangun pukul 02.00 dinihari. Seperti merasa baru mengirim sms… Hp kusambar dan langsung mengecek ‘Pesan Terkirim’. Nah kan..terulang lagi…aku mengirim sms tanpa sadar sepenuhnya pada pukul 22.30.
Hadeuw..untung sms yang kukirim sesuai dan bukan ke orang yang salah. Fiuhh, lega deh. Kuperingatkan ya, jangan mengirim sms padaku di malam hari saat waktu tidur. Jawaban yang kukirim bisa jadi ‘mengejutkan’ dan ga nyambung. Sama seperti orang mengigau…bedanya aku menulis.
Ya sudahlah. Hari ini bukan ingin membahas sms. Tapi pesan yang terkirim dari sahabatku itu. Setengah 11 malam sms dan menanyakan, “Mb, tau dokter spesialis anak yang buka? Anakku sakit panas banget.”
Okay, jam setengah 11 malam, setengah sadar, dokter spesialis anak, sakit panas bukanlah kombinasi cantik untuk disampaikan pada manusia yang masih ‘mengumpulkan nyawa’.:P
Kujawab sepengetahuanku, dan diakhir kutambahkan, “sementara bantu doa dulu ya..”. Iya, aku tahu, aku bukan sahabat yang baik. Seharusnya aku sigap berdiri. Menelepon ke sana kemari dan bukan melanjutkan merenda mimpi. Tapi itulah yang terjadi. Dan di jam 02.00 dinihari itulah aku baru sadar…’Ya ampunnn ga banget deh!’ Menyesali sikapku karena yang mengirim sms adalah sahabatku sendiri. Saat dia melawan kantuk, menenangkan diri dan mencari solusi karena anaknya sakit, aku tidur!!
Padahal selama kurang lebih dua pekan ini, aku banyak sekali mendapat hikmah tentang sahabat. Baik dari kajian, tulisan maupun peristiwa yang terjadi di sekitarku.
Dari Umar bin Khattab, ra :
‘Sahabat itu adalah seseorang yang membenarkanmu, bukan yang membenar-benarkanmu.’
Betapa banyak dari kita lebih suka mendengar apa yang ingin kita dengar, bukan apa yang harus kita dengar. Dan di sinilah fungsi sahabat. Ia meluruskan, ia memperingatkan, ia ‘menampar’.
Hanya saja kita lebih suka berteman dengan orang yang membuat kita tertawa, membuat kita bisa melepaskan penat, membuat kita sesaat lupa pada amanah yang harus segera tertunaikan. Lalu apa yang salah? Memang sahabat harus bisa membuat kita nyaman. Memang tak salah, tapi hanya segelintir orang yang membuat nyaman kita, mau juga berada di samping kita saat kita tidak berada di tempat nyaman.
Kita pun lebih suka berbagi dengan sosok-sosok ceria, penuh semangat, menemani kita menggapai kesuksesan, meniti mimpi-mimpi, mendengar ambisi-ambisi dan tidak terlalu pusing dengan pilihan jalan yang kita tempuh dan cacat-cacat pribadi kita. Itupun benar. Selain nyaman, sahabat adalah sosok penebar virus semangat. Tapi masihkah ia bersemangat saat kita tak mampu membuktikan cita-cita kesuksesan yang tadi tersemat bersama. Masihkah ia rela membersamai saat kita berubah pikiran karena kedewasaan menuntun kita mengambil jalan yang berseberangan. Dan tegarkah ia menegur saat kita perlahan keluar jalur atau melintas batas kebenaran?? Sampai hatikah ia mengungkap bahwa kita telah menorehkan kesalahan dan harus menebus dengan harga mahal?!
Untukmu yang merasa nyaman dengan sahabat-sahabatmu, bahagia dan tertawa bersama mereka, berbagi semangat dan menggurat cita-cita; mari merenung. Dan mari menghitung. Tidakkah kita sudah menemukan sahabat sejati? Apakah kita sahabat yang baik? Atau sahabat saat baik-baik??
Mengapa mereka yang berada di sisi rasulullah semasa hidup disebut sahabat, karena mereka ‘menemani’ rasulullah sepanjang hidup beliau. Dengan seluruh dimensi kosakata ‘menemani’. Saat suka beliau, saat duka beliau, saat hijrah, saat perang, saat haji. Membela, melindungi, bersaksi. Saling nasehat menasehati dalam menegakkan kebenaran dan menetapi kesabaran. Ada kalanya mengutamakan saudara saat lapar melilit dan dahaga mencekik, bahkan mempersembahkan mahar bagi wanita yang sejatinya menjadi idaman hati.
Ah, betapa jauhnya kita (maaf, aku) dari mereka. Karena lebih menyukai orang-orang yang sepemahaman denganku. Yang bisa tertawa bersamaku dan tak menghujatku. Tak perlu bersitegang dan bersiteguh denganku untuk sebuah nilai. Dan yang tak perlu repot-repot kuawasi kemana saja melangkah dan apa saja yang dijamah. Dan tak payah berbagi bahu untuk melepas lelah dan amarah. Tak sudi ‘menampar’ dan lebih rela ‘membiar’ dan menelantar.Tak perlu menjadi telaga saat air mata berderai menganak sungai.
Padahal hakikatnya airmata adalah ungkapan terdalam untuk suka dan untuk duka. Maka menjadilah ia ukuran ketulusan kita. Saat kita bisa meneteskan air mata untuk seseorang tanpa syarat, saat itulah Tuhan bicara…bahwa hati kita memberikan tempatnya..Ia bicara dengan bahasa ‘ketulusan’.
Saat kita tulus meluangkan sebuah tempat di hati kita untuk seseorang, maka sebisa mungkin kita menginginkan ia tetaplah seperti awal kita memasukkannya dalam hati. Menjaganya dari keburukan dan mengawalnya di jalan kebenaran. Jikalau ia tak lagi nyaman dengan ‘cara’ kita, maka lepaskan dan relakan ia tumbuh. Suatu saat ia akan kembali, dan menyadari ketulusan yang pernah terulurkan.
“Dalam dekapan ukhuwah,
kepedulian yang terlembut bukanlah sekadar rasa ingin tahu.
Kepedulian yang terlembut kadang tampil dalam bentuk kesadaran
bahwa mungkin kita belum perlu tahu sampai tibanya suatu waktu.
Maka kesabaran akan menuntun kita untuk tahu,
di saat yang paling tepat, dengan cara yang paling indah.”
-Salim A Fillah-
Baiklah..cukup untuk renungan pagi ini. terima kasih sudah menyimak.
Bergegas meraih Hp dan berharap bisa memperbaiki keadaan..:D

